Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setelah Bapak Pergi

Sungguh benar terasa ada yang hilang. Entah ketika aku pulang kerja. Atau seusai aku mandi sore. Tidak ada lagi yang menyapaku setelah penat beraktivitas. Atau mengajak bercengkerama memungkasi senja.

Rasa kehilangan ada karena kita pernah punya rasa memiliki. Nampaknya itu benar adanya.

Setiap yang hidup pasti mati. Setiap awal pasti punya akhir. Hanya kenangan yang terus tertinggal. Kenangan tentang sosok bapak yang penuh kisah haru biru.

Pusara bapak

Dunia akan tetap berputar mengelilingi matahari. Hujan akan tetap turun pada masanya. Dan yang datang suatu saat akan pergi. Semua hanya urusan waktu.

Namun manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, melainkan juga memori dan serpihan kisah yang saling menyatu membentuk identitas serta jati dirinya.

Bapak tidak akan pernah kembali, meski aku menangis semalaman. Hanya ikhlas yang ingin kudapat.

Setidaknya bapak tak lagi merasa sakit. Lima tahun rutin cuci darah adalah sebuah hal yang jauh dari kata nikmat.

Bapak, kenanganmu akan selalu ada di sanubariku. Tenanglah kau di sana bersama Tuhan yang kau sembah setiap saat. 

Guritno Adi Siswoko
Guritno Adi Siswoko Seorang pengajar, penulis dan penggemar nasi goreng. Menggemari berbagai topik seperti penulisan kreatif, pendidikan, keuangan, dan senang-senang. Suka tidur, nonton bola dan kopi hitam dengan gula.

Posting Komentar untuk "Setelah Bapak Pergi"

Berlangganan via Email