Teknologi, Kebiasaan dan Kehidupan

Teknologi mengubah cara manusia dalam banyak hal, mulai dari mencari nafkah hingga menghabiskan sore.

Nenek moyang orang Jawa akan berkumpul di pelataran rumah seseorang untuk melekan dan mengobrol. Kini, kita larut dalam smartphone masing-masing. Entah untuk mengakaes Instagram, Slack, Teams, Netflix atau Youtube.

Teknologi juga mengubah cara manusia dalam mengukur kekayaan. Bukan lagi hanya dengan kepemilikan sapi atau sawah, tetapi juga jenis mobil dan merk handphone.

Pada akhirnya teknologi juga merambah ranah agama dan kepercayaan. Sesuatu yang dianggap sakral bagi sebagian orang.

Lantas bagaimana kita bersikap? Tentu mereka sang penggerak perkembangan teknologi (jikalau memang ada) bisa disebut tuhan baru.

Tanpa fatwa ataupun firman, mereka dengan mudah membuat kita berubah. Ada yang belum download e-money? Atau berlangganan internet? 

Aku sendiri tidak percaya ada oknum yang menguasai teknologi dan mendikte umat manusia untuk harus ini itu. 

Ketika melihat orang Tengger, masyarakat Baduy atau suku Amish, harusnya kita sadar manusia tetap punya pilihan. Tetap punya kehendak bebas.

Namun ingat bahwa sesederhana apapun sebuah lampu minyak, itu juga contoh bentuk teknologi.

Pada akhirnya kita sadar manusia tak akan pernah lepas dari ketergantungan akan teknologi, karena itu yang kita punya untuk bisa bertahan hidup.

Teknologi juga membuat kita sadar bahwa manusia memiliki potensi menguasai alam semesta. 

Meski demikian aku melihat banyak sekali fenomena orang diperbudak teknologi, alih-alih menguasainya. Langsung saja aku sebut contohnya : kebodohan dalam bentuk kegilaan pada game online.

Berapa banyak pria yang berstatus ayah rela menghabiskan waktunya yang berharga untuk main game online, alih-alih meningkatkan derajat kehidupan? Banyak sekali. 

Game online bukan lagi sebuah rekreasi psikis atau hiburan tapi berubah jadi menu utama dalam lingkaran aktivitas keseharian.

Anak sekolah yang gurunya tidak live mengajar tiap hari akhirnya juga tenggelam dalam fenomena bodoh ini.


Aku bersyukur aku tidak punya minat pada game online. Sesekali ada kerinduan main PES atau Online Chess tapi tidak jadi. Banyak hal yang lebih penting untuk dikerjakan. Tidur misalnya.

Aku salut pada mereka yang bisa kaya dari game online. Tapi aku prihatin pada mereka yang makin miskin karena hal ini.

Teknologi memang menyenangkan. Tetapk jika tidak disikapi dengan bijak, maka manusia bisa terjerumus dalam fenomena baru : perbudakan. 

Komentar

Bacaan Menarik

Akibat Menabukan Seks, Bacaan Renyah Di Kala Senggang

Quora, Situs Tanya Jawab Terbaik Tempat Mencari Inspirasi Menulis

Mengenal Lebih Jauh Quora Indonesia, Media Sosial Berbasis Tanya Jawab