Topeng Babi : Sampah (Bab 1)

Novel Mafia Topeng Babi, Bab 1
Topeng Babi, Bab 1

Bastian tertunduk lesu. Surat pemecatan itu masih ada di tangan kirinya, diapit oleh jempol dan telunjuk yang lunglai. Lemas. Tak berdaya. Beberapa menit yang lalu ia berniat merobek-robeknya, lalu melemparkan robekan itu ke muka Toni, HRD yang menyerahkan surat itu kepadanya. Tetapi ia urungkan. 

Ia tahu, Toni tidak akan melakukan hal itu jika tidak ada tekanan dari atas. Ada orang yang memang ingin menyingkirkannya. Ia tahu siapa orang tahu. Karena itulah ia makin kecewa. 

Bastian layak kecewa. Ia pantas untuk marah. 

Sudah hampir dua puluh tahun ia habiskan hidupnya untuk perusahaan yang kini menendangnya. Ada rasa marah. Ada rasa kecewa. Ada rasa tidak terima. Bastian kalut. Di otaknya kini berkecamuk berbagai hal. Aneka masalah berkelindan, saling bergulung-gulung menggulung dirinya. Dirinya tidak terima diperlakukan seperti ini. Dirinya marah telah diperlakukan layaknya sampah. 

Sebatang samsu ia sedot, lalu hembuskan. Usianya memang masih 38, tetapi itu usia nanggung. Ia tidak yakin ada perusahaan yang bakalan menerimanya. Apalagi dengan ijasah SMP.

Pikiran Bastian menyeruak jauh ke masa lalu. Dua puluh tahun yang lalu, ketika dirinya berniat ke Jakarta untuk ikut pamannya menjadi preman di Rawa Bendong, seorang teman menghentikannya. Nama teman itu adalah Jaka Bin Raka, seorang anak Kepala Desa yang pernah nyaris dipenjara karena merampok bank lokal.

Kepada Bastian, Jaka menawarkan untuk membangun sebuah bisnis. Bastian tertawa kencang. Jaka tertawa lebih kencang. Dua remaja gila yang hidup selalu menyerempet bahaya berbicara tentang bisnis. Mungkin langit dan matahari juga ikut tertawa.

Tetapi ternyata Jaka serius. Jaka berkata, bahwa ada seorang bos dari Taiwan yang ingin membuka bisnis di kotanya. Kota kecil yang jarang masuk soal-soal ulangan IPS anak SD. Si Bos butuh walet. Dan Jaka butuh uang. Namun siapa yang bakal menyiapkan walet-waletnya?

Arloji itu berbunyi. Sebuah arloji murah kualitas rendahan yang masih handal. Bastian membelinya tiga tahun lalu di Pasar Wangon, sebuah pasar yang ia dirikan bersama Jaka. 

Biasanya pada jam-jam ini, Bastian duduk manis menonton pertandingan bola di ruang tamu, ditemani istrinya yang mengajari anak-anak mereka mengerjakan PR. Tetapi kini Bastian tidak tahu harus kemana. Pulang dia malu. Mengamuk kepada Jaka ia tak mampu. 

Bastian dan Jaka adalah dua orang yang mengacak-acak bisnis banyak orang. Dengan modal kenekatan, mereka berdua membangun imperium bisnis yang mengerikan. 

Awalnya hanya bisnis jual beli sarang burung walet. Lalu Jaka mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang simpan pinjam, dimana Bastian menjadi bosnya. Dari perusahaan itu, bisnis Jaka membesar. Ia dirikan banyak supermarket, minimarket, pasar, perusahaan otobis, restoran, hingga terbaru pabrik semen. 

Hari semakin larut ketika pikiran Bastian masih saja kalut. Minuman dan seorang gadis yang mendengkur di atas kasur tidak mampu menghilangkan rasa kecewanya. Dia sudah mengirim pesan pada sang istri, tidak akan pulang dua hari ini. Ada tugas dari Bos. Dia harus ke pulau seberang, membereskan proyek yang terancam gagal. Bastian, ataupun juga Jaka, memang pandai dalam hal mencari-cari alasan. Kalau sudah mencatut nama Bos Jaka, istrinya yang doyan ngomel dan penuh curiga juga pasti tunduk, nurut tanpa tanya. 

Dia keluar ke teras hotel. Hotel itu bernama Istana Kisah, sebuah hotel yang juga masih terkait bisnis mereka. Jaka memang bukan orang sembarangan. Bisnisnya seperti gurita yang mencengkeram kota kecil ini. Mulai dari properti, keuangan, pasar, logistik hingga kabarnya juga politik. Namun berbeda dengan Jaka yang sudah berada di puncak, bersanding dengan para crazy rich lainnya, Bastian tetap berada di bawah. Namun setidaknya pendapatannya cukup untuk menambal kebutuhan dan gaya hidupnya.

Sebastian Wijaya, itulah nama lengkapnya. Sebenarnya pekerjaannya tidak jelas. Di struktural hanya tertulis staf ahli, namun deskripsi kerjanya bisa bermacam-macam. Dia pernah menculik tiga orang petani yang menolak menjual sawah mereka, mendatangi seorang polisi jujur yang merintangi bisnis Jaka atau yang terbaru, menghabisi seorang wanita yang hamil karena menuntut bos, atau kawannya, menikahinya.

Semua dilakukan Bastian dengan senang hati. Ketakutan hidup miskin membuatnya berani berbuat apa saja. Menculik, membunuh, melenyapkan orang sudah pernah ia lakukan. Berkatnya bisnis Jaka membesar. 

Tetapi meski demikian, Bastian jarang bertemu Jaka. Mereka hanya bertemu sesekali. Itupun di hotel remang-remang ketika bermain bilyard, atau ketika menemani Jaka memancing di kolam pemancingan di ujung kota ini. 

Bastian sadar, Jaka harus terlihat bersih. Jaka harus terlihat elegan. Terlalu dekat dengan bajingan seperti dirinya akan membuar Jaka Bin Raka dalam bahaya. Biar Jaka yang memikirkan segalanya, Bastian hanya tahu tunduk saja. Itulah konsep yang mereka sepakati sampai detik ini.

Bastian memang tunduk patuh seratus persen pada Jaka. Pun ketika Jaka memindahkannya dari perusahaan utama ke anak perusahaannya yang paling kecil. Meski demikian, gaji Bastian setara dengan salah satu direktur di sana. Itu belum termasuk bonus yang diberikan pribadi oleh Jaka kepadanya. 

Lama melantur, Bastian bosan juga. Ia sudah menghabiskan dua kotak samsu. Baik Bastian maupun Jaka adalah perokok sejati. Mereka punya banyak kesamaan, sekaligus perbedaan.

Bastian melangkah gontai. Ia masih belum memahami alasan dirinya dipecat. Pikirannya kacau. Ia berencana melanjutkan ronde yang tertunda bersama Wati, seorang perempuan yang mengaku sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika yang menyambi sebagai gadis penghibur. 

Bastian membuka sebuah pintu. Ia masuk ke lobi. Lalu melangkah menuju lorong yang akan menghantarkannya ke kamar no 18. Itu adalah kamar favorit Bastian. Suasana hotel saat itu sangat sepi. Bahkan terlalu sepi. Ia baru sadar sedari tadi belum menemukan manusia satupun.  Namun Bastian tidak terlalu merisaukannya. 

Ia kini telah berada di depan kamar no 18. Ia pegang gagang pintu. Lalu masuk. Sejurus kemudian. Sejurus kemudian, sebuah letupan pistol menyalak. Sebutir peluru tepat melubangi kepalanya, di antara kedua matanya. Ia langsung tersungkur. 

Bastian tewas. 

Komentar

Bacaan Menarik

Akibat Menabukan Seks, Bacaan Renyah Di Kala Senggang

Quora, Situs Tanya Jawab Terbaik Tempat Mencari Inspirasi Menulis

Menjadi Penulis Online di Era Digital, Sebuah Fatamorgana Memilukan