Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi Bangsa Indonesia dan Delusi Berkepanjangan

Pada leg 1 laga final Piala AFF yang digelar tanggal 29 Desember 2021, timnas Indonesia babak belur dihajar Thailand empat gol tanpa balas. Seluruh manusia di planet ini tahu itu, atau setidaknya bisa mengetahui hasilnya. Menang kalah adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi. Namun yang menyedihkan adalah ketika gagal memahami fakta ini dan terjerumus dalam rumor yang menggelikan.

Sehari selang setelah itu, jagad Tiktok dan Youtube, termasuk juga Facebook ramai oleh kreator konten dari negeri sendiri yang haus akan popularitas, lapar akan cuan dan tak memikirkan nasib bangsanya. Mereka dengan sengaja membuat konten klikbait tentang panitia penyelenggara AFF yang akan mendiskualifikasi Thailand karena terbukti ada pemain yang menggunakan doping. 

Efeknya, Indonesia akan langsung juara. Hore. Semua senang, semua bahagia. Setidaknya itulah hayalan tingkat receh yang berusaha dibangun oleh para pencipta kabar bohong tersebut. 

Nyatanya, semua itu omong kosong. Uniknya, meski demikian banyak sekali insan yang mengamini, mempercayainya dan bahkan mendukung halusinasi seperti itu. Alhasil konten-konten yang bermutu rendah serta jauh dari kebenaran tersebut makin tersebar. Adsense dan cuan ngalir, tetapi tingkat literasi masyarakat Indonesia yang mengenaskan makin terpampang nyata.

Coba saja ketik kata kunci : Thailand doping AFF, Thailand didiskualifikasi atau semacamnya. Padahal yang ada adalah WADA sebagai badan anti-doping menghukum beberapa negara, termasuk Thailand dan juga Indonesia sehingga mereka dilarang mengibarkan bendera nasional di ajang-ajang tertentu. Itulah faktanya. Jauh sekali dari narasi yang dihembuskan, bukan?

Sedih sekali melihat semua fenomena ini. Indonesia memang diharapkan juara. Namun andaikanpun gagal, tak perlu menciptakan halusinasi yang menyedihkan seperti itu. 

Bahkan mayoritas konten tersebut, entah itu video maupun artikel, gagal menjelaskan alur yang tegas dan pembahasan yang lugas. Alhasil judul hanya sebagai sarana pemancing klik dan berujung pada hal yang memalukan. 

Bukan itu saja. Masih banyak yang gagal paham dalam mendalami aturan yang sudah ditetapkan, merasa Indonesia hanya perlu satu gol saja untuk bisa memaksakan extra time dan kemudian memperbesar peluang untuk meraih trofi. Alasannya kali ini, atas dasar pandemi, AFF menghapus aturan gol tandang.

Padahal nyata-nyata yang dihapus adalah aturan gol tandang, bukan aturan selisih gol. Jadi Indonesia minim harus tetap menang dengan selisih empat gol untuk bisa memaksakan adanya perpanjangan waktu. 

Sedih bun? Sama! Literasi masih menjadi sesuatu yang mahal. Itulah mengapa berbagai momen kerap menjadi sesuatu yang horor alih-alih membahagiakan. Pemilu, Pilkada hingga perayaan tertentu menjadi ajang debat karena kurangnya mencerna konten-konten yang bertebaran di internet.

Tentu mereka yang mengamini dan mendukung hoaks tentang doping tersebut punya uang buat beli gadget, tetapi kurang mau membaca secara lebih serius dengan nalar yang terbuka. Menyedihkan.

Hoax, Thailand didiskualifikasi dari AFF Cup
Hoax, Thailand didiskualifikasi dari AFF Cup 

Inilah PR bagi generasi mendatang. Masalah kita sekarang bukan sedikitnya informasi yang didapat, tetapi semua orang bisa menciptakan informasi sendiri dan banyak orang lebih memilih membaca apa yang mau mereka baca, bukan yang sebenarnya terjadi. Opini dianggap fakta. Narasi sarat kepentingan dianggap kebenaran yang harus dibela mati-matian. Akhirnya dunia maya penuh dengan debat kusir yang tak bermuara pada hal yang bermutu.

Posting Komentar untuk "Literasi Bangsa Indonesia dan Delusi Berkepanjangan"