Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Boneka Hantu (Bagian 2)

Keanehan Yoon Ah bukan berhenti di situ saja. Nilai ulangannya terus menurun. Dia juga jadi sering menyendiri. Bahkan hubungannya dengan pacarnya rusak hingga Jansen, pacarnya memutuskannya. 

Aku jelas marah pada Jansen. Aku datangi dia. Namun yang kudengar darinya justru lebih membuatkku takut.

"Aku seperti tak lagi mengenali Yoon Ah. Dia tampak sangat berbeda." Jansen berkata dengan lirih ketika kami berdua bersama. 

"Akupun demikian. Rasa-rasanya ada yang sedikit aneh dengan Yoon Ah. Tapi mungkin itu bukan hal yang serius. Apa kalian yakin harus putus?" 

"Ya, aku sudah tidak tahan lagi. Mungkin kalian semua menganggapku jahat karena aku memutuskan Yoon Ah. Padahal faktanya tidak seperti itu." 

Ucapan Jansen membuatku bingung. Apa maksudnya. Namun sebelum aku mengetahui semuanya, kami harus berpisah. Aku ada janji dengan Tuan Joo, pemilik apartemen sekaligus dekan di kampusku. Ternyata Yoon Ah lupa tidak membayar sewa bulan lalu.

cerbung Boneka Hantu (Bagian 2)
cerbung Boneka Hantu (Bagian 2)

Pukul empat sore, aku bertamu ke kediaman tuan Joo. Ia adalah dekan metafisika dan folklore. Kemampuannya dan pengetahuannya seputar mitos, hal mistis dan dongeng-dongeng masa lalu adalah yang terbaik.

"Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini. Lagipula kalian sudah aku anggap anak sendiri. Telat satu bulan tidak masalah," Tuan Joo menjelaskan sambil sesekali menghisap cerutu panjang. Itu adalah gayanya yang khas.

"Tidak, tuan. Kami yang salah. Aku janji, hal itu tidak akan terulang."

"Sudah kubilang, tidak apa-apa. Lagipula aku tahu hal ini harusnya jadi tanggung jawab Yoon Ah, bukan. Ohya, dimana dia?"

Ditembak pertanyaan seperti itu, aku jadi merasa kikuk. Mana mungkin aku cerita jika Yoon Ah sedang dalam masalah. Tetapi Tuan Joo nampaknya terus bertanya.

"Aku rasa ia sedang dalam masalah. Dia sekarang sibuk dengan bonekanya."

"Boneka. Aku tidak tahu anak sekarang juga masih suka main boneka," balas Tuan Joo heran sambil tertawa. 

"Itulah masalahnya. Aku rasa ada yang aneh dengan bonekanya."

"Apa maksudmu?" Seketika Tuan Joo mencondongkan badannya sambil menatap dengan mata terbelalak. 

Aku bercerita sekenanya. Tuan Joo nampak serius mendengarkan. Selesai aku bercerita, ia menarik sigaretnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Asapnya tebal membentuk lingkaran-lingkaran dengan lubang di tengahnya.

"Ajaklah Yoon Ah jalan-jalan ke kota. Lalu menginaplah di sebuah hotel. Setelah itu tawarkan dia untuk pulang kampung. Kampus sedang libur musim dingin. Kau bisa mengajaknya ke rumahmu saja. Ia pasti tidak akan menolak."

Aku heran Tuan Joo mengatakan hal itu. Bagaimana mungkin ia tahu Yoon Ah tidak akan menolak. Bahkan Jansen saja yang adalah pacarnya sering ditolak ketika mengajaknya berkencan. 

Meski bingung aku rasa saran dari Tuan Joo sangat baik. Di akhir pertemuan, ia berbisik pelan padaku.

"Ayahmu seorang keturunan pendeta, bukan? Coba ceritakan semua ini padanya." Jantungku seakan berhenti. Sebenarnya ke arah mana pembicaraan ini tertuju. Apa yang sebenarnya sedang dialami oleh Yoon Ah?

Cerita Selanjutnya | Cerita Sebelumnya 

Posting Komentar untuk "Boneka Hantu (Bagian 2)"