Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tiga Pendekar Naga : Bab 1

Saat semesta terbentuk, keseimbangan belum sempurna. Kekuatan hitam berkumpul menjadi satu, membuat kekacauan pada alam yang masih muda.

Lalu muncullah sebuah bola raksasa yang menyedot kekuatan hitam itu, memberikan waktu untuk semesta menjadi bertumbuh dan berkembang dengan baik. 

Tetapi kemudian bola itu, karena pengaruh kekuatan hitam yang begitu besar, akhirnya menjadi gelap karena tercemar. Ketika manusia yang sejak semula memang serakah dan tidak pernah puas makin menjadi-jadi dalam memuaskan nafsu angkaranya, bola hitam tadi disembah untuk memberi mereka kekuatan.

tiga pendekar naga bab 1
tiga pendekar naga bab 1

Beberapa manusia lalu memiliki kekuatan lebih dari yang lain. Mereka bahkan disebut sebagai manusia setengah dewa. Mereka membuat bumi menjadi makin kacau. Perang berkobar di berbagai tempat. Keseimbangan dan ketentraman hanyalah angan belaka. Hingga kemudian seseorang yang disebut sebagai Si Naga dengan penuh keberanian menghancurkan bola tersebut. 

Ia menyedot semua kekuatan yang ada dan kemudian membasmi para manusia setengah dewa yang membuat onar dan mengacau dunia.

Si Naga adalah sosok yang kuat sekaligus baik hati. Ketulusannya berhasil meredam kekuatan hitam yang ada padanya. 

Namun ketika dia semakin tua, kekuatan hitam itu telah menguasainya. Ia menjadi penguasa tunggal dunia dan menggangkat dirinya sebagai Kaisar Naga.

Untuk menghentikannya, keempat murid terkuatnya bersatu dan berhasil mengalahkannya. Di saat itulah, Kaisar Naga kembali kepada jati dirinya. Ia kemudian meminta keempat muridnya untuk membunuhnya dan jika Bola Semesta keluar dari dirinya, ia meminta mereka untuk membagi bola tersebut menjadi tiga agar kekuataan jahat yang ada daripadanya bisa dikendalikan. 

Saat seorang dari keempat muridnya memenggal kepada Si Naga, bola itu keluar dari tubuhnya. Ketiga murid yang lain langsung membelahnya menjadi tiga bagian.

Mereka lalu bermufakat agar ketiga murid tersebut menyimpan masing-masing satu pecahan. Sedang murid yang tidak mendapatkan bagian akan melanjutkan tampuk pemerintahan menjadi Kaisar Naga berikutnya yang memerintah dunia.

Dunia kembali tenang untuk sementara. Selama 600 tahun, Kaisar Naga dan keturunannya memerintah dunia dengan baik. Pengetahuan, keteraturan dan keseimbangan terjaga sempurna, hingga Kaisar Naga XII wafat. Ia tidak memiliki penerus. Akhirnya dunia kembali terpecah-pecah. Masing-masing mendirikan kerajaan dan pemerintahan dan melakukan apa yang dianggapnya baik. Sedangkan ketiga pecahan Bola Semesta tadi dilupakan orang dan dianggap sebagai dongeng belaka.

Di sebuah daratan yang luas, tersebutnya sebuah kerajaan bernama Wui. Kerajaan itu sangat luas dan makmur. Raja yang memerintah bernama Raja Wuilan. Rakyat hidup bahagia, jauh dari kekacauan dan perang. 

Raja Wuilan memiliki seorang putri yang cantik bernama Putri Giok. Kecantikan Putri Giok tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia. Banyak orang mengagumi paras dan tubuh putri muda tersebut hingga menyamakannya dengan Dewi Embun, istri dari salah satu Kaisar Naga yang dulu pernah memerintah.

Meski sudah ada ratusan raja dan pangeran dari berbagai negeri berusaha mendekatinya, namun hati Putri Giok sudah tertambat pada satu orang. Dia adalah Jenderal Rei, panglima gerbang utara yang membawahi 100.000 prajurit serta berkuasa atas lima propinsi dan 19 kotapraja. 

Jenderal Rei adalah seorang yang cakap. Di tangannya, wilayah utara Wui menjadi makmur sentosa. Perompak yang sebelumnya mengacau di tempat itu tak berkutik lagi. Kejahatan turun drastis serta pembangunan berlangsung lancar.

Hubungan antara Jenderal Rei dan Putri Giok diketahui oleh semua orang, tak terkecuali Raja. Namun Raja Wuilan tak keberatan. Ia tahu Jenderal Rei adalah orang yang baik dan Putri Giok punya kebebasan untuk menentukan dengan siapa dia akan menjalin hubungan. 

Suatu hari di bulan ketiga di musim semi, seperti biasa, para pejabat tinggi, bangsawan serta penguasa daerah berkumpul di ibukota Chang'ze untuk menghadap raja. Biasanya mereka akan berkumpul untuk menghadap baginda dan berpesta. 

Setelah baginda mendengarkan laporan dari para penguasa daerah, sore itu Raja Wuilan mengajak Jenderal Rei untuk bermain catur.

"Bagaimana menurutmu tentang putriku, Jenderal?"

"Ampun baginda raja yang mulia, Putri Giok adalah gadis paling sempurna yang ada di bawah kolong langit. Burung-burung bahkan mengabarkan kesempurnaan beliau hingga ke seluruh penjuru mata angin. Bagi hamba, Putri Giok adalah anugerah dan kebanggaan rakyat Wui bahkan seluruh umat manusia."

"Kau terlalu memuji. Bukan itu maksudku."

"Ampun yang mulia. Hamba bodoh dan masih perlu banyak belajar."

"Sudahlah, Rei. Aku tahu hubunganmu dengan Putri Giok. Aku merestui hubungan kalian." Raja lalu tertawa sambil mengelus janggut putihnya yang panjang.

Muka Jenderal Rei langsung memerah. Ia tak sanggup lagi melihat wajah Raja. Setelah beberapa saat, ia lalu berkata, "Bagi hamba, ini adalah salah satu hadiah dan anugerah yang tak ternilai. Hamba berjanji akan menjaga tuan putri dengan nyawa hamba sendiri."

Basa-basi itu selesai pukul tujuh petang. Suara lonceng berdentang. Satu jam yang lalu, di stasiun Chengshauw, di barat daya di Istana Teratai, kereta uap datang. Kereta itu berisi para pejabat khusus yang memiliki tugas rahasia. Mereka datang dari negeri-negeri yang jauh. Kedatangan mereka sudah ditunggu Jenderal Gao, panglima pelindung istana. Delapan orang itu lalu naik kereta kuda kerajaan menuju istana. Tepat saat lonceng makan malam, mereka tiba dan langsung menuju ke aula. Di sana, para pejabat dan anggota kerajaan sedang akan mulai santap malam.

Hanra, seorang yang paling senior dari pejabat itu ingin sekali langsung berbicara dengan Baginda Wuilan, tetapi ia sadar waktunya sedang tidak tepat. Maka ketika Raja menyapanya, ia hanya basa-basi.

"Hai Hanra dan para petugas khusus sudah datang rupanya. Para gubernur, bangsawan dan menteri sekalian, inilah Hanra dan anak buahnya. Mereka selama tiga tahun ini aku tugaskan khusus menyelidiki negeri-negeri yang jauh di barat dan selatan. Kemarilah, saudaraku. Kabar baik apa kali ini yang kau bawa?"

Hanra berusaha menekan perasaannya. Penasihat Huize dan Perdana Menteri sangat peka dengan gelagat yang ditunjukkan oleh Hanra, seorang petugas telik sandi yang sangat senior. 

"Tidak ada kabar baik selain melihat Baginda Raja panjang umur dan Putri Giok semakin bersemi layaknya bunga di Gunung Olian. Biarlah kiranya para pejabat dan Rajaku bersantap dahulu setelah itu besok mungkin barulah kami bercerita sedikit tentang apa yang kami tahu dari negeri-negeri di selatan."

Raja akhirnya tahu setelah ia mendengar ucapan Hanra. Tetapi ia tetap menunjukkan wibawanya dan ia melihat semua yang ada. Ia senang, bahkan Jenderal Rei dan Putri Giok tidak tahu apa yang mungkin dibawa oleh Hanra. Namun ia sadar ada sesuatu yang harus segera ia ketahui.

Malamnya, Raja membatalkan pesta tarian dan meminta semua pejabat kembali ke losmen maupun penginapan yang sudah disediakan. Memang sejak dahulu hanya keluarga raja beserta keluarga Panglima Tertinggi saja yang boleh tinggal di istana hingga pukul sembilan.

Namun hingga pukul sebelas, raja masih berdiskusi sengit dengan Hanra dan beberapa pejabat tinggi, seperti Perdana Menteri dan para penasihat agung. 

Di luar istana, para pejabat dan istri mereka melanjutkan aktivitas. Ada yang mengunjungi gedung teater, pergi ke kuil atau jalan-jalan di ibukota kerajaan yang memang megah dan tak pernah tidur. Namun ada satu orang yang sejak pukul setengah sembilan sudah berkuda ke arah barat daya, menuju sebuah danau suci yang disebut Danau Para Pertapa. Di sana, ia melepas bajunya dan tampaklah otot yang kekar dan mengagumkan. Dialah Jenderal Rei.

Rei sangat percaya pada cerita bahwa Danau Para Pertapa adalah tempat para Kaisar Naga memuja Sang Pencipta sambil mandi di malam hari. Orang-orang menganggap itu dongeng belaka tetapi tidak baginya.

Setelah selesai melakukan puja, ia bangkit dan ingin memakai jubahnya kembali. Tetapi ia tidak menemukannya. Ketika ia kebingungan, muncullah seorang gadis cantik. Pekatnya malam tak mampu menutupi cahaya dari wajahnya yang bagai malaikat. 

"Hormat hamba kepada Putri Giok, kiranya selalu panjang umur dan diberkati dengan segala berkat dari semesta."

"Sudahlah kakak. Sudah kukatakan, jika tidak ada orang, bersikaplah biasa. Aku tidak mau kau seperti itu," Putri Giok merajuk. 

"Adik. Ini sudah malam. Kenapa ke sini. Lagipula medan di sini sungguh sepi dan berbahaya. Jika terjadi apa-apa, bagaimana kakak bisa mempertanggungjawabkannya pada Baginda?"

Putri Giok lalu mendekat dan memakaikan jubah emas pada pujaan hatinya, lalu memeluknya. "Apapun akan kulakukan demi kau, kakak."

Mereka lalu berpelukan. "Segeralah pulang, atau Suisui akan mencarimu"

"Aku di sini Jenderal. Tidak perlu khawatir." Seorang wanita dengan wajah manis tersenyum. Dialah Suisui, dayang Putri Giok.

"Adik, aku kira kau sendirian."

"Mana berani aku. Sudahlah Kakak, aku sudah di sini. Sekarang ceritakan kisahmu. Aku merindukan petualanganmu. Apakah kau bertempur dengan para perompak lagi? Kota mana saja yang sudah kau bebaskan. Cepat, ceritakan padaku."

Malam itu mereka bertiga menghabiskan waktu bersama. Pukul tiga, Jenderal kembali ke penginapan dan Putri bersama Suisui pulang ke istana. 

Mereka, atau bahkan seluruh Wui tidak tahu bahwa saat ini Raja mereka sedang menghadapi kegundahan besar. Ada apa gerangan? Apa ada yang sedang mengancam keselamatan negeri Wui, negeri yang terkenal damai dan tidak suka berselisih dengan negara lain? 

Bersambung....

Cerita Selanjutnya 

Posting Komentar untuk "Tiga Pendekar Naga : Bab 1"