Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tiga Pendekar Naga : Bab 4

Bahasa adalah kekuatan umat manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya dan membangun peradaban. Lalu bagaimana jika seseorang yang mampu memahami bahasa hewan? Tentu ia sangat beruntung. Dan orang beruntung itu adalah Xie San.

San nyaris mati karena luka hati. Dirantai di ruang bawah tanah sendirian tanpa seorangpun yang mengajaknya mengobrol membuatnya nyaris gila. Hingga suatu sore ia mendengar suara.

"Kasihan orang itu. Ia disiksa oleh tua bangka yang ia kira ayahnya."

"Apa, apa kau tak tahu? Dia tentu saja bukan ayahnya."

"Kau masih tidak mempercayaiku? Aku Ho, tikus terlincah di muka bumi."

Tidak, Ho tidak pernah berbohong."

"Sudahlah, Ho tidak sudi. Bahkan jika Ho adalah seorang manusia, Ho juga tak akan menolong anak itu."

Aneh sekali. San jelas mendengar suara, namun suara itu hanya berasal dari satu sumber. Apakah dia orang gila yang berbicara sendiri.

Ia coba buka matanya yang penuh keringat. Terasa berat. Lalu ia gelengkan kepala. Ia mencoba tetap membuka matanya. Namun tidak ada seorangpun. Hanya dua ekor tikus.

"Wahai anak muda. Mati saja kau! Kenapa kau masih tetap hidup!"

"Bangsat apa maksudmu!"

"Lihat anak muda ini. Dia berlagak bisa berbicara dengan Ho, tikus terlincah di dunia. Kau pasti sudah gila dan sebentar lagi akan mati."

"Andaikanpun aku mati, tetapi aku mati sebagai seorang manusia, bukan tikus!" San menjawab sambil geram.

Tikus Ho kaget. Ia kini sadar, San paham apa yang ia katakan. Bahkan ia bisa berbicara dengannya. Dengan terbirit-birit ia kabur. Tikus lainnya yang tak paham lalu pergi santai. 

"Hai, kau yang mengaku tikus terlincah, jangan lari. Kemarilah. Aku minta maaf. Aku mohon. Aku butuh teman ngobrol."

"Hei manusia. Kau pasti jelmaan iblis. Bagaimana kau bisa mengerti bahasaku."

"Akupun tak tahu. Anehnya hanya dengan dirimu aku bisa berbicara. Sedang temanmu, aku tak paham apa yang ia katakan."

Mereka berdua lalu mengobrol. Suatu keajaiban yang belum pernah terjadi sebelumnya, seekor tikus kini berbincang-bincang dengan manusia.

Sudah hampir seminggu San dan Ho saling bersahabat. Ho menceritakan tentang dunia luar. Ho menjadi mata dan telinga San. Tikus lincah itu menceritakan bagaimana sebenarnya keadaan dunia sedang genting. Suatu kekuatan jahat dari balik Gunung Olian sedang mengancam negeri-negeri di sebelah utara, bahkan termasuk Wui. Sebenarnya San tidak tertarik. Ia terus memaksa Ho menceritakan siapa dirinya sebenarnya dan mengapa ayahnya membencinya. 

Hingga suatu saat, Ho tidak tahan lagi. Ia mulai menceritakan apa yang ia tahu tentang San dan masa lalunya yang kelam.

tiga pendekar naga bagian 4
tiga pendekar naga bagian 4

Xie Gie adalah seorang sarjana miskin dari Chang'ze. Ia ditugaskan oleh kerajaan untuk mengutip pajak di daerah Zeilang. Xie Gie jatuh cintah pada putri seorang petani miskin bernama Linggua, ibu San.

Berdua mereka berpacaran hingga akhirnya Xie Gie melamar Linggua. Namun cukup lama mereka berdua tidak dikaruniai anak. Padahal Xie Gie sudah berusaha berobat ke banyak tabib namun hasilnya nihil. 

Pekerjaan Gie adalah pekerjaan yang kotor. Para pengutip pajak selalu menarik pajak melebihi seharusnya. Mereka juga selalu mengurangi setoran ke ibukota. Tak heran itulah alasan mengapa banyak orang pajak kaya raya.

Tapi Gie tidak mau melakukannya. Ia tetap bekerja dengan lurus dan jujur. Teman-temannya membencinya. Hingga suatu saat atasannya terpana melihat kecantikan dari Linggua. Ia memerintahkan Gie untuk mengikuti pendidikan ke ibukota selama 2 bulan. Gie yang tak paham apa yang terjadi hanya menurut.

Selama dua bulan itu, Linggua ternyata terus menerus dihampiri oleh atasannya itu. Hingga Gie yang telah lulus dan kembali ke Zeilang heran, istrinya telah hamil. 

Marah, Gie melabrak atasannya dan berupaya membunuhnya. Namun Gie justru ditangkap. Atasannya menyogok jaksa wilayah dan hakim. Gie dijebloskan ke penjara dengan tuduhan korupsi.

Tetapi atasannya tidak tahu, sejak mengikuti pendidikan di ibukota, Gie sudah berubah. Ia mengenal banyak orang berpengaruh. Gie lalu menulis surat kepada Jenderal Gao dan menceritakan apa yang dialami.

Suatu hari Jenderal Gao datang. Orang-orang heran, kenapa seorang jenderal dari utara bisa datang ke wilayah pesisir nan miskin seperti Zeilang. 

Gao lalu menangkap semua orang yang terlibat dalam kasus Gie. Ia menyerahkan nasib mereka semua pada Gie. Gao juga memberikan seluruh kekayaaan mereka pada Gie.

Tanpa ampun Gie lalu menghajar mereka semua beserta seluruh keluarga besarnya. Ia lalu memenjarakan mereka di sebuah rumah yang penuh dengan ular dan kalajengking lalu membakar rumah itu. Semua orang mati dalam keadaan menyedihkan.

Gie meminta Linggua untuk membunuh bayi dalam kandungannya. Linggua yang sudah lama menginginkan seorang anak bersikeras ingin mempertahankannya. Karena cintanya pada istrinya, ia akhirnya menurut.

Namun proses kelahiran itu tidak mudah. Linggua mati sesaat setelah San lahir. Gie yang sudah menjadi orang sukses sibuk dengan urusannya. Ia awalnya juga mencintai San, tetapi lambat laun ia menyadari bahwa San bukan anaknya dan bahkan Xie San adalah penyebab kematian istrinya.

Orang-orang bangga dan takjub pada Gie yang berhasil membangun Zeilang. Namun mereka juga menyayangkan sikap Gie pada San. Tetapi tidak ada yang berani menegur.

San bingung. Ia sempat membenci ayahnya. Namun ia sadar, jika ia diposisi ayahnya, ia pasti akan melakukan hal yang sama. Ia jadi benci pada dirinya sendiri, dan menganggap dirinya sebagai anak pembawa sial.

"Jangan begitu kawan. Kau adalah seorang yang baik. Ayahnya sebenarnya juga baik. Keadaan yang membuat kalian seperti ini. Aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu."

"Terima kasih, Ho. Tetapi aku ini tak punya siapa-siapa. Selain kau, aku seperti batang pohon yang tergeletak di tengah gurun pasir. Mungkin jika aku bisa bebas, aku akan memilih mati saja."

"Hei, anak muda. Pikiranmu konyol sekali. Dunia ini terlampau indah untuk dilewatkan begitu saja. Selain itu aku mendengar desas-desus dari para pendeta suci di lembah Olian, tiga naga sebentar lagi akan bangkit dan memunculkan diri mereka."

"Tiga naga?"

"Ya. Jangan katakan padaku kau tidak pernah mendengarnya!"

"Aku kira itu hanya mitos belaka?"

"Anak muda nan malang. Nampaknya kau memang sudah ditakdirkan bertemu denganku, Ho, tikus lincah yang sudah melanglang buana ke berbagai tempat. Baiklah akan kuceritakan semuanya padamu."

Ho menceritakan apa yang ia ketahui semuanya, tentang Kaisar Kegelapan, negeri Pasir Hitam, Bola Semesta dan legenda Tiga Naga. San tak peduli pada itu semua. Satu hal yang ia tahu, kini ia memiliki teman. Walau itu hanya seekor tikus. Sebuah lembar baru kehidupan telah ia buka. Dan masih banyak lembar-lembar lainnya yang akan membawa mereka berdua ke petualangan yang lebih seru. 

Cerita Sebelumnya | Cerita Selanjutnya 

Posting Komentar untuk "Tiga Pendekar Naga : Bab 4"