Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Natur Manusia Sejak Semula

Sejak semula manusia memiliki kecenderungan untuk mendengarkan bisikan jahat lalu melakukan kejahatan. Ini terlihat jelas dari kisah nenek moyang kita ketika masih hidup bersama-sama dengan Allah di taman Eden. 

Dalam kitab Kejadian pasal 3 jelas terlihat bagaimana manusia, yang diawali oleh Hawa, mendengarkan bisikan dari si ular yang menyarankan melakukan sesuatu yang jelas-jelas melanggar ketetapan Allah. 

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Kejadian 3:1-5

Mereka yang sudah hidup enak dan bahkan bisa dikatakan memiliki privilege terbaik dari semua yang diciptakan Tuhan, justru mengambil jalan yang tidak semestinya yang mengakibatkan seluruh keturunannya terusir dari tempat mulia itu, lalu mendiami bumi hingga saat ini.

Ada yang menarik di sini. Manusia ternyata memang diciptakan 'secara tidak sempurna' dalam arti manusia tetap memiliki celah untuk melakukan kejahatan. 

Apakah itu berarti Allah sengaja menjebak manusia? Tentu tidak. Dari sini kita melihat bahwa sejak lahirnya manusia adalah makhluk yang bebas. Kebebasan itu hadir dalam diri manusia sejak seperti ketika ia lahir dan diciptakan di dunia. 

Di Eden, Allah bahkan memberi manusia kebebasan untuk memakan semua buah yang ada. Larangannya hanya satu, yakni jangan makan buah dari Pohon Pengetahuan. 

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Kejadian 2:16-17

Inilah natur manusia yang lain, yakni menjadi makhluk yang bebas. Meski kebebasan itu harus dibayar sangat mahal, yakni terputusnya relasi antara mereka dengan Sang Pencipta karena sebuah pelanggaran berat.

Meski memiliki kebebasan, manusia juga punya natur yang lain yakni ingin kembali kepada Sang Pencipta. Jurang yang tercipta begitu lebar dan dalam yang memisahkan mereka dan keturuannya dengan Allah tidak menghentikan manusia untuk terus mencari jati dirinya, yakni sebagai ciptaan Allah.

Natur tersebut, membuat manusia dimanapun mereka berada, selalu berupaya untuk mendekatkan diri pada sesuatu yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan dan awal mula eksistensi mereka. Maka jangan heran bahwa meski sudah terserak ke seluruh penjuru bumi, mereka tetap memiliki kerinduan untuk mencari Sang Pencipta, termasuk diantaranya menyembah unsur-unsur alam yang dianggap merupakan representasi dari Allah.

Semua Manusia Berdosa


Tidak ada manusia yang tidak berdosa, kecuali Yesus. Semua orang, termasuk agamawan dan para nabi adalah manusia biasa yang tentu saja manusia berdosa. Mereka mendapatkan dosa dari dua hal :  tindakan mereka sendiri dan pewarisan dosa dari Adam.

Bukti bahwa mereka berdosa adalah karena mereka manusia dan hidup di dunia. Selama mereka ada di dunia, berarti mereka manusia berdosa. Karena itulah yang dikatakan Alkitab.

Pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa memiliki konsekuensi yang besar. Manusia kehilangan kenyamanan yang sebelumnya mereka dapatkan. Kini tanah menjadi terkutuk dan mereka harus bekerja sangat keras untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Tuhan memberikan ini bukan secara tiba-tiba, tetapi ini adalah kesepakatan yang sudah dijelaskan sebelumnya. 

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Kejadian 3:17-19

Mungkin jiwa itu kuat tetapi daging sangat lemah. Kecenderungan untuk selalu berbuat dosa ada pada semua manusia.

Namun karena Yesus sudah mengorbankan diri-Nya, maka ada anugerah yang turun kepada manusia, berupa keselamatan. Anugerah ini memang diberikan kepada manusia karena manusia dengan cara apapun tidak akan mampu menghapus dosa mereka sendiri, termasuk dengan perbuatan baik.

Kebebasan Sebagai Anugerah

Kebebasan yang diberikan Tuhan kepada dua leluhur manusia, yakni Adam dan Hawa, adalah sebuah hal yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun. 

Tuhan memberikan kebebasan manusia untuk bertindak, namun tentu di balik itu semua ada konsekuensi yang melekat. Ini jugalah yang menciptakan hubungan sebab-akibat, dimana dari sana manusia mau tidak mau harus senantiasa waspada dan terus mencari pengetahuan terkait ketetapan-ketetapan Allah, mana yang akan mengakibatkan dosa dan mana yang menyenangkan hati-Nya.

Manusia bisa menjadi liar dan jahat jika hanya semata-mata mengikuti nafsunya yang penuh angkara, egoisme, dan kejahatan. Kehidupan akan menjadi kacau. Yang kuat akan menindas yang lemah. Untuk itulah diperlukan konsensus untuk bisa membatasi kebebasan manusia sampai pada wilayah tertentu agar tidak menindas kebebasan yang lain.

Alkitab Sebagai Sumber Pengetahuan

Konsensus atau kesepakatan yang ada biasanya didasarkan pada pengetahuan dan keputusan dari beberapa orang saja. Jelas ini akan mengakibatkan timbulnya rasa ketidakadilan bagi yang lain. 

Sistem demokrasi yang mengagungkan suara mayoritas sebenarnya sangat tidak sempurna karena hanya akan menjadi sarana legalisasi penindasan bagi minoritas.

Untuk itu, demokrasi harus didasarkan pada pengetahuan yang benar, yang bersumber dari sumber yang tepat, yakni Alkitab.

Bisa kita lihat bersama bahwa kesepakatan untuk memakan buah pengetahuan baik dan jahat yang dilakukan Hawa dan Adam berakibat dosa yang besar. Itu terjadi karena tindakan mereka tidak didasarkan pada ucapan dan perintah Allah, melainkan hasrat dalam dirinya untuk bisa mencapai level yang sama dengan Allah.

Hal ini terulang terus dalam segala masa peradaban manusia, yakni ketika tindakan yang diambil melupakan nilai-nilai Alkitab. 

Kelemahan manusia dalam mempertimbangkan hal yang harus diambil terjadi karena memang pengetahuan mereka terbatas. Selain itu, selalu ada kuasa kegelapan yang memberikan bisikan-bisikan pada manusia, sama seperti ular yang menghasut Hawa untuk melawan Allah.

Memang dalam sejarah yang dicatat oleh Alkitab, ada orang-orang tertentu yang terlihat begitu dekat dengan Tuhan, hingga Tuhan sendiri yang menunjukkan apa yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan.

Sementara itu, untuk semua manusia lain pada umumnya, Tuhan menunjukkan ketetapanNya melalui Alkitab sebagai panduan hidup. 

Tanpa Alkitab manusia akan tersesat. Pemikiran mereka bisa saja mengarah kepada kejahatan dan tindakan mereka didasarkan pada kepentingan diri sendiri. Semuanya itu pada akhirnya akan menuju kepada kehancuran. Sama seperti ketika Adam lebih memilih mendengarkan istrinya daripada menurut pada Allah.

Relevansi Dengan Kehidupan Modern

Manusia selalu punya pilihan. Namun di balik semua pilihan itu masing-masing ada konsekuensi. Banyak manusia salah memilih karena : 

  • mereka tergoda untuk mendengarkan bisikan dari kuasa gelap
  • mereka tidak tahu konsekuensi yang ada di baliknya

Apapun alasan kita, jelas kita tetap akan menanggung resiko dari pilihan kita. Untuk itulah, senantiasa memegang teguh ajaran dari Alkitab yang merupakan firman-Nya, merupakan sebuah kebijaksanaan yang akan menghindarkan kita dari malapetaka yang mungkin hadir.

Namun patut diakui bahwa membaca saja tidak cukup. Kita memerluan tuntunan dari Roh Kudus agar bisa mengerti sekaligus memahami ajaran yang terkandung dari Alkitab. Ingat, kuasa kegelapan pernah menipu Hawa dengan cara memanipulasi perintah Allah. 

Alkitab akan terus relevan dengan kehidupan. Ia adalah teman terbaik manusia dalam menjalani hidupnya yang memang berada di antara pilihan-pilihan yang ada. 

Posting Komentar untuk "Natur Manusia Sejak Semula "