Bis Malam
Rasa malu menyelimutiku. Ingin rasanya menonjok mukaku sendiri. Aku, Brata Suherman, asli orang Surabaya, kena tipu calo bis di terminal Bungurasih. Terminal yang memang terkenal dengan adanya calo yang bikin penumpang tidak nyaman.
Ratusan kali naik bis dari terminal ini, rasa-rasanya belum pernah calo menghampiri. Mereka paling hanya menanyakan tujuan, selebihnya tahu logatku asli arek Suroboyo, mereka langsung minggir.
![]() |
cerpen bis malam |
Beda dengan orang-orang yang polos dan terlihat bingung. Mereka adalah mangsa empuk. Tujuan Surabaya - Banyuwangi bisa jadi kena 500 ribu dan itupun pakai bis ilegal yang tidak nyaman dan aman sama sekali.
"Sial!" aku membatin dalam diriku. Kok bisa! Jam menunjukkan pukul 11.03 malam, rasa lapar mulai menyerang. Aku melipir sebentar di sebuah depot.
"Rokok mas?" seorang pemuda berseragam biru datang menghampiri sambil menawarkan sebungkus rokok yang merknya tidak pernah aku ketahui.
"Terima kasih mas, maaf saya sudah tidak merokok", jawabku singkat.
Akhirnya kami berbasa-basi sambil aku mencomot tiga buah ote-ote dan tahu isi, tak lupa dengan petis dan beberapa cabai hijau segar.
Ternyata dia adalah Bowo, seorang tukang parkir freelance di Bungurasih. Aku sebenarnya benci profesinya, yang bagiku tak lebih dari bentuk pungli kepada masyarakat. Tetapi melihat dirinya yang sopan, aku jadi terpengaruh.
"Mau kemana mas?", dia bertanya lagi. Percakapan kami lebih sering didominasi oleh pertanyaannya.
"Madiun mas, mau ke rumah calon istri", jawabku menimpali.
Bowo ini tipe orang yang mudah memuji orang. Setelah bertanya dia lalu memuji setinggi langit. Seperti saat tahu aku sangat concern dengan kesehatan, mengingat aku adalah pelatih judo plus merangkap konsultan pembinaan jasmani.
"Pantas Mas Brata badannya bagus. Organ-organnya pasti sehat ya. Tekanan darah aman mas? Pernah sakit semacam diabetes gitu? Pasti ga pernah ya?", kalimatnya yang ini agak aneh. Tetapi disampaikan dengan nada guyon, aku jadi ikut tertawa dan menjawab sekenanya.
Setelah hampir tiga jam menunggu, aku permisi sebentar. Kudatangi calo yang tadi, berusaha meminta uangku kembali. Tetapi apa daya dia mbulet dan ruwet. Tanpa pikir panjang, empat pukulan mendarat di wajahnya. Lalu kuberi bonus dua tendangan. Dia terkapar. Pingsan. Tebakanku, minimal dua rusuknya patah.
Keributan kecil ini nyaris jadi besar kalau Bowo tidak segera menyeretku, membawaku ke pojokan tempat beberapa bis tanpa nama dan tujuan ngetem.
"Jangan gegabah mas. Mas memang kuat dan hebat, tetapi kalau dikeroyok teman-temannya si calo, nanti pasti keok."
"Biarin mas. Saya ini asli Surabaya, rumah saya di Pandegiling. Kalau ada apa-apa, mereka bakalan disikat sama teman-teman saya juga."
"Oh asli Surabaya ya. Saya kira Madiun juga."
"Enggak, Madiun itu tempat tinggal pacar saya."
Akhirnya Bowo membuka hapenya, menelepon seseorang lalu kemudian bercakap-cakap. Tidak sampai setengah jam, sebuah bis kuning tanpa nama dan jurusan datang. Ada cukup banyak penumpang di dalamnya, tetapi belum sampai penuh.
"Mas ini bis paman saya. Jurusan Surabaya - Solo, jadi lewat Madiun. Mas pakai ini saja. Gratis. Hitung-hitung nambah teman."
Awalnya aku ragu. Melihat bis yang cukup tidak proper ini, instingku mengatakan lebih baik aku pulang saja. Tetapi Bowo terus memaksa. Akhirnya, setelah mengucapkan terima kasih, aku naik juga.
Begitu naik, aku langsung diberi sebotol air mineral dan kotak berisi sebuah donat. Wow, cukup bagus juga servis yang diberikan, pikirku. Karena memang haus, kubuka tutup botol air mineral ini, lalu kuteguk beberapa kali. Sebenarnya aku merasa rasanya sedikit aneh. Tetapi kuputuskan untuk menghabiskan air mineral itu.
Tidak disangka, keputusan ini adalah keputusan yang aku sesali seumur hidup. Aku langsung kehilangan kesadaran. Alih-alih bertemu sang kekasih pujaan hati, aku berakhir di dalam tanah yang basah, di sebuah hutan di Kamboja. Bagian tubuhku sudah tidak lengkap lagi. Organ-organku yang sehat, hasil aku menjaga kebugaran selama ini, diambil, lalu dijual, ditukar dengan uang.
9 komentar untuk "Bis Malam"
Sebuah pelajaran dari sebuah kisah...
Endingnya menyedihkan banget. Seperti saudaraku yg tidak pernah merokok, tapi meninggal dengan vonis dokter kena kanker paru-paru
Menyedihkan ya
Aku curiga si Bowo itu calo human traficking. Serem...
Kali ini mereka yang tepuk tangaan melihat anak mudanya sudah ga lengkap lagi organ tubuhnya.
Dasar kau Bowo!
Saya mendadak pengen nulis ending sendiri alias ala saya. Di mana bagian tubuh Brata Suherman sudah dicincang kecil-kecil, bercampur terigu dan penyedap rasa kemudian dibulat-bulatkan menjadi bakso. Gumpalan daging yang dijual oleh Parmin di gerobak baksonya dan biasa berjualan di Terminal Bis Bungurasih.
Gimana Mas Adi? Lebih mantab dan nendang dengan ending begini bukan?
Kan udah tahu si Bowo itu mulutnya manis
Pasti gak bener orang kayak gitu mah
Padahal dari awal sudah feeling ga enak ya.. dan benar sekali pameo tak ada makanan yang gratis, mau naik bus, diganti nyawa.
Semoga kisah fiksi ini jangan sampai terjadi di dunia nyata ya
Langsung kebayang gimana rasanya malu bercampur gemas saat sang tokoh, Brata Suherman, kena tipu calo di terminal Bungurasih, Surabaya. Pastinya scene itu bukan sekadar sketsa—tapi bikin pembaca nyaris ikut menahan napas malu bareng dia!
And theeeen... jeng jeeeeng...
si jagoan yang sombong berakhir jadi seonggok daging (>_<)