Tumbal - Part 5
Bukan hanya Pak Linda, Pak Bungkus dan Pak Budi juga kemudian menghilang beberapa hari kemudian. Ini sungguh aneh. Memang teror para hantu sudah berhenti berkat jimat dari Mbah Jembi dan Mbah Kontlo, tetapi justru kasus hilangnya tiga orang anak buahku ini yang membuatku makin pening.
"Pak Burhan, apakah saya perlu lapor polisi?"
"Tidak perlu, Pak. Pasti tiga orang itu kabur. Itu sudah biasa."
"Begitu ya?"
"Iya, kita fokus saja untuk menyelesaikan rumah ini. Apalagi kurang sedikit."
Kini sudah tiga orang menghilang. Aku mencoba percaya pada Pak Burhan, kalau mereka sebenarnya kabur, tetapi entah kenapa aku sulit untuk melakukannya.
Suatu malam, aku mengingat kalung salib pemberian istriku. Aku bahkan baru sadar aku tidak pernah berdoa selama ini. Aku lalu mengambil kalung itu, yang selama ini aku simpan di dalam sebuah kotak kayu. Dan entah apa yang sebenarnya terjadi, begitu aku memakainya, sebuah visi tiba-tiba mendatangiku. Aku seperti melihat sebuah cahaya dari langit yang kemudian menarik rohku sedemikian rupa. Aku terpelanting jauh, tetapi rohku tetap berdiri. Aku melihat tubuhku tumbang. Angin dingin datang, menyerangku seperti belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Lalu dari jendela, aku lihat seseorang mengintip.
"Siapa itu?!", entah keberanian darimana, aku menghardiknya. Lalu sosok itu muncul. Dia berdiri menatapku.
"Pak Linda?"
Aku tidak salah lihat, itu Pak Linda. Dia penuh lumpur. Lalu dia membuka mulutnya dan lidahnya keluar. Lidahnya bercabang. Seperti ular.
Tapi entah kenapa aku tidak takut. Aku justru keluar untuk mengejarnya, tetapi ia malah lari. Aku terus mengejarnya, namun entah kenapa Pak Linda begitu lincah. Ia begitu cepat berlari. Kami bersama menuju sumur. Saat sudah sampai sumur, aku tidak bisa melihat Pak Linda. Tetapi, aku mendengar beberapa orang datang. Mereka datang dari kebon belakang. Aku langsung bersembunyi di balik tumpukan batu pondasi.
Ternyata ada beberapa orang. Mereka adalah Riki, Mbah Jembi dan Mbah Kontlo. Mereka membopong sesuatu. Sesuatu yang ditutupi kain kafan.
Ternyata itu mayat Pak Budi. Mbah Jembi lalu melolong seperti anjing. Ia kemudian melakukan sejenis ritual, membaca beberapa mantra lalu membelah llidah Pak Budi.
Bukan itu saja. Hal yang paling mengerikan kemudian terjadi. Riki menyanyat leher Pak Budi, menampung darahnya di sebuah cawan. Lalu mereka bertiga saling bergantian meminum darah dari cawan itu.
Kemudian mereka membuang mayat Pak Budi ke dalam sumur. Kemudian mereka seperti bersujud sambil mengucapkan mantra. Tidak berapa lama, muncul asap tebal lalu saat asap itu menghilang, muncul makhluk hitam berbulu berkepala kambing. Angin malam mendesir, menyentuh tubuhku yang penuh keringat dingin.
Makhluk setengah kambing itu kemudian meludah. Ludahnya berubah menjadi batangan emas. Mereka bertiga langsung bergirang.
"Ini pesugihan!", aku mengucap dalam hati. Aku tetap bersembunyi di sana sampai mereka semua pergi. Lalu aku mengendap-endap masuk ke mess. Aku pergi ke dapur dan menuangkan air ke dalam gelas.
"Darimana Pak Ruslan."
"Oh, kaget saya. Pak Burhan bikin kaget saja. Dari warung pak."
"Kok keringetan, Pak?"
"Iya. Tadi sempat dikejar ular. Sudah ya, pak. Saya mau tidur dulu, sudah capek.!"
"Sudah capek, atau sudah tahu?"
Aku langsung menjerit. Dan bayangan itu menghilang. Aku lemas. Tubuhku bergidik. Kepalaku seperti diputar-putar, lalu aku ambruk.
![]() |
Cerpen Tumbal part 5 |
Tiga hari kemudian, Pak Burhan mendatangi Pak Jaka. Kata Pak Burhan, Pak Jaka dicari Pak Riki. Kebetulan Pak Jaka butuh uang tambahan, mau kasbon. Tapi syaratnya Pak Jaka harus ke hutan belakang. Nanti terus menuju ke sebuah gubuk di seberang sungai. Di sana, Pak Riki sudah menunggu.
Sesuai janji, Pak Jaka datang ke sana. Di sana ternyata sudah ada Pak Burhan, Pak Riki, Mbah Jembi dan Mbah Kontlo.
"Emang buat apa, Pak, kasbon?"
"Anak saya di kampung sakit, Pak. Butuh uang buat pengobatan."
"Baik, ini sudah saya siapkan. 20 juta ya?"
"Iya pak."
"Oke, tetapi jangan lupa dibayar ya, Pak."
"Siap, Pak."
"Ini pak, kopinya diminum dulu."
"Ah tadi saya sudah ngopi sama Pak Hamo dan Pak Ruslan."
"Loh ini wajib loh. Ga akan saya beri kasbon kalau tidak minum."
Akhirnya Pak Jaka terpaksa minum. Tidak sampai dua menit, Pak Jaka ambruk. Merekapun tertawa riang. Pak Burhan segera mengambil kain kafan untuk menutupi tubuh Pak Jaka. Tetapi kemudian, ada teriakan yang memecah kesunyian.
"Berhenti, kalian semua. Dasar budak setan!"
Semua orang terkejut. Aku, Ruslan Tanuwijaya, dengan sebuah tongkat baseball di tanganku, menghardik mereka semua.
"Kalian tega membunuh orang demi kekayaan. Sungguh tega perbuatan kalian!"
"Hei, Ruslan, jangan sok suci kamu. Kamu juga butuh uang, khan! Ayo kita bagi saja uangnya."
"Hei, babi! Aku tidak serendah kalian." Lalu aku menerjang mereka semua. Di belakangku, ada Pak Hamo, Pak Bambang dan Pak Fadli. Mereka semua membawa tongkat. Kami menyerbu mereka semua. Tidak sampai satu jam, mereka semua kami ringkus.
-------***-------
Dua bulan sudah, kejadian itu berlalu. Kami yang selamat, masih sering saling mengirim kabar melalui WA. Kami juga berjanji, tahun depan akan berkunjung ke pusara Pak Linda, Pak Bungkus dan Pak Budi.
Dari investigasi polisi, ternyata para tukang terdahulu juga dijadikan tumbal oleh Riki Cs. Para hantu yang menakuti kami, ternyata hanyalah ingin menunjukkan bahwa mereka korban. Saat tubuh mereka ditemukan dan dikuburkan dengan layak, mereka akhirnya bisa istirahat dengan tenang. (TAMAT)
Posting Komentar untuk "Tumbal - Part 5"
Posting Komentar