Elora

Wajah lugu dengan rona merah itu memancarkan sejenis getaran yang menyentuh lubuk kalbu. Saat pertama mata ini melihatnya, seakan seluruh raga runtuh. Ada sendu yang tidak bisa diukur. Ada bahagia yang membuncah di dalam jiwa. Dialah Elora, cahaya dari Tuhan yang sudah delapan tahun kami nantikan. 

Tahun 2025 bukan tahun yang mudah untuk saya. Selain ujian finansial yang semakin menderu di penghujung tahun, saya juga terdiagnosa beberapa penyakit yang seumur-umur tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, hingga harus cuti 4 bulan penuh. 

Elora Kinanthi Nareswari
Elora Kinanthi Nareswari

Namun Tuhan Maha Adil. Bersama dengan kesulitan, hadir harapan. Istri saya hamil. Rasa bahagia sekaligus takut menyelimuti kalbu. Bahagia karena itu berarti ada harapan untuk memiliki anak, sesuatu yang kami idam-idamkan sejak lama. Takut, karena beberapa kali, bukan sekali, istri mengalami keguguran. 

Dengan seiring dengan membaiknya kesehatan saya, hadiah Natal dan Tahun Baru bagi kami hadir. Seorang bayi mungil berparas jelita, yang kami beri nama Elora. 

Pejuang Garis Dua

Andaikan petarung, istri saya adalah petarung yang handal, yang menolak menyerah meski harapan seperti hilang tak terlihat mata. Bayangkan, delapan tahun dihabiskan dengan ikhtiar, doa dan kesabaran, mengetuk pintu langit dengan tangis yang ia serukan, kadang dalam sunyi, kadang dalam riang. 

Tahun 2018 harusnya kami sudah memiliki anak. Waktu itu usia kehamilan sudah masuk 8 minggu. Namun Tuhan berkata lain. Jabang bayi lahir jauh lebih awal. Pukulan telak bagi kami, terlebih istri saya.


Semenjak itu, mungkin 4 atau 5 kali istri mengalami keguguran. Dengan usia kehamilan adalah 2 minggu. Istri saya tidak bekerja, meski kadang ada pesanan membuat kue. 

Sudah banyak dokter dan rumah sakit kami datangi, namun anehnya, para cerdik pandai di bidang medis ini punya vonis berbeda-beda. Ada yang bilang endometriosis sebagai tersangka, hormon yang tidak stabil sebagai alibi kadang pula miom dalam rahim yang disalahkan. Bahkan ada dokter dari rumah sakit swasta terkenal di Surabaya, yang masih muda rupawan dan terlihat cerdas, justru meresepkan pil KB. Seorang bidan yang kami ajak konsultasi belakangan, untungnya melarang meminum obat-obatan dari dokter tersebut. Si bidan tua veteran Angkatan Laut itu yakin, semua tinggal waktu. Dan memang semua hanya masalah waktu, meski itu 8 tahun.

Namun dari semua dokter, selain si Bidan sepuh yang kami hormati, ada satu dokter sepuh yang setelah memeriksa istri, mengatakan bahwa istri saya baik-baik saja. Miom ada tapi masih batas wajar. Semuanya subur. Semuanya baik. Ini bagai oase di tengah ancaman mental. Sayangnya hanya sekali kami berjodoh dengan dokter itu.

Tahun berganti tahun, istri selalu punya gebrakan untuk hamil. Mulai dari teknik bercinta di saat tertentu, minum madu jenis tertentu, hingga mengkonsumsi herbal. Semua belum membuahkan hasil. Hingga satu ikhtiar dilakukan. Operasi untuk mengangkat benjolan kecil di paha plus pijat di salah satu kenalan. Beberapa bulan kemudian, bayi kami terlihat di rahim melalui USG. Besarnya hanya seperti cimol. Kami memanggilnya Cemol. 

Tangis dan Tawa Silih Berganti 


Cemol hadir membawa tawa dan sukacita, plus debaran jantung yang makin kencang. Saat dia semakin besar, miom juga membesar. Tapi kali ini bukan satu dokter, namun beberapa dokter baru yang hadir di kehidupan kami, mengatakan itu bukan masalah serius. 

Saat cemol mulai menggebrak dengan gerakan, tendangan dan pukulan, istri makin bahagia. Akhirnya ia merasakan yang dirasakan wanita hamil, perutnya 'disiksa' oleh buah hatinya sendiri. 

Justru saat ia beristirahat untuk berhenti bergerak, istri saya panik. Jeda tendangan itu membuat istri saya meraung. Berpikir yang tidak-tidak. Untungnya semua baik-baik saja. Cimol hanya butuh waktu berkembang daam diam.

Tiga Hari Penuh Haru


Jumat, 2 Januari, istri harus masuk RS. Jadwalnya, dokter dan tim perawat akan mempersiapkan istri untuk sesar. Jantung berdegup kencang, terutama karena tidak bisa menemani di malam hari. Itulah hari pertama yang penuh haru.

Lalu besoknya, tepat hari ketiga di tahun 2026, istri mulai memasuki ruangan operasi sekitar pukul delapan kurang lima belas. Cukup lama hingga sekitar pukul sembilan, sebuah kereta kecil di dorong keluar dari ruangan operasi untuk dipindah ke ruangan lain. Di dalam kereta itu, buah hati kami, titipan ilahi untuk saya dan istri, terbaring dengan muka yang sangat lucu. Rona wajahnya merah seperti semangka, bibirnya ranum dan mungil. Itulah buah hati kami.

Ternyata istri mengalami pendarahan hebat. Sebuah kegentaran yang tidak bisa dijelaskan menjalar, mula-mula dari dalam dada, lalu menjalar ke seluruh raga. Doa terus kami semua daraskan, memohon belas kasihan Sang Penguasa Hidup agar anak sekaligus ibunya selamat.

Untungnya keadaan istri mulai membaik. Pada Sabtu sore, istri mulai masuk ke kamar rawat inap, bertemu dengan buah hatinya, sosok yang selama ini ada di rahimnya.

Cahaya dari Tuhan


Delapan tahun kami menanti. Usia kami sebenarnya belum terlalu tua, tetapi juga tidak bisa dibilang muda. Namun Tuhan masih berbelas kasih pada kami. Ia mengirimkan cahayanya untuk menerangi bahtera rumah tangga kami. Untuk itulah kunamai dia Elora. Cahaya dari Tuhan.

Kami sungguh berharap sekali lagi pertolongan Tuhan agar kami bisa mendidik Elora sehingga bisa jadi insan yang baik dan bermanfaat bagi dirinya, orang lain dan bangsa. Elora adalah titipan Tuhan dan kami bersyukur dipercaya menjadi orang tuanya.

Untuk teman-teman pejuang garis dua, I feel you. Kalian hebat. Kalian luar biasa. Jangan menyerah. Apapun jalan yang digariskan Tuhan, percayalah itu yang terbaik. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi. Soli Deo Gloria. 

Tulisan ini adalah tulisan #2 dari seri Tantangan 100 Hari Menulis Blog yang saya buat untuk mengembangkan skill menulis saya. Baca tulisan saya lainnya di blog ini atau kunjungi profil saya untuk mengenal lebih jauh tentang saya. Aura Kasih beli terasi, siapa tahu kita bisa kolaborasi. Sekian, terima kasih sudah membaca. Tuhan menyertai kita semua. 

Posting Komentar untuk "Elora "