Tumbal - Part 1

Jaman sekarang cari kerja makin susah, terlebih juga umur nangggung. Aku, Ruslan Tanuwijaya, seorang lulusan terbaik di kampus sekaligus mantan manajer area dengan pengalaman 25 tahun, terlunta-lunta, mengemis ke sana kemari untuk mencari lowongan kerja.

Entah apa yang salah dengan negeri ini, tetapi aku juga tak mau tenggelam dalam imajinasiku untuk menyalahkan pemerintah. Aku bergerak, tiap hari mengirim lamaran, baik melalui email maupun aku titipkan satpam.

Pasrah hidup jadi pengangguran, aku hubungi semua kenalan. Beberapa menjanjikan akan membantu, sebagian lain membalaspun tidak. Tapi itu semua tidak masalah, di kala hidup susah, kita jadi tahu siapa teman kita sebenarnya.

CERPEN TUMBAL (PART 1)
CERPEN TUMBAL (PART 1)

"Bang Ruslan, masih cari kerja?", seorang mengirim pesan WA di suatu pagi yang mendung.

"Masih, adinda. Apakah ada info?", aku membalas penuh harap.

"Nanti kita ngopi jam 4 sore bisa bang? Di warkop depan kantor polsek?", balasannya lugas.

"Siap, terima kasih dinda.", aku bersyukur sambil hampir menangis.

Usiaku sudah 46 tahun, masih kuat kerja fisik. Pengalaman di belakang komputer juga cukup banyak, siap bantu urusan manajemen. Pokoknya, asal halal dan gaji masuk akal, aku siap kerja apa saja.

---**---

Jam belum menunjukkan pukul 4, tetapi aku sudah sampai di tempat yang dijanjikan. Sebuah warung kopi sederhana yang mungkin hanya ada kurang dari lima belas bangku. Setengah jam kemudian, Riki, sahabat lama jaman kuliah datang. Dia adalah sosok yang aku tunggu.

"Maaf telat bang, Jakarta macet."

"Ga masalah, gimana kabar. Sudah sukses nampaknya sekarang."

"Ah ya begini bang. Langsung saya ya, bang. Jadi apa benar, Bang Ruslan sedang butuh kerja?"

"Iyah, Riki. Abangmu ini sudah cari kerja ke sana ke mari, tetapi belum berjodoh. Kali aja jodohnya melalui kamu."

"Bisa saja abangku ini. Sejak di pergerakan dulu, abang itu idolaku, panutanku. Menolong abang, aku pasti senang."

Kamipun ngobrol lama. Tak terasa dua cangkir kopi susu sudah tandas aku sikat, bersama dengan beberapa tempe mendoan dan roti coklat. 

Akhirnya sampai juga pembicaraan pada topik utama, lowongan kerja. Sesuatu yang sejak tadi aku tunggu-tunggu.

"Jadi mandor proyek bang. Gampang kok. Kalau belum yakin, bisa jadi asisten dulu. Nanti tiga bulan ada evaluasi, trus bakalan jadi pegawai tetap."

"Wah, beneran. Keren juga. Abang belum pernah masuk dunia proyek, tetapi bolehlah langsung jadi mandor sambil belajar."

"Iya bener bang, dengan wawasan dan kecakapan yang abang miliki, pasti bisa kok. Apalagi usia abang pas banget."

"Apa hubungannya sama usia?", Riki sedikit gelagapan, kopinya sampai tumpah dan ia tersedak. 

"Maksud aku, abang kan sudah kepala empat. Cocoklah jadi mandor. Kalau masih muda, nanti tukang-tukang tidak ada yang hormat."

"Oh begitu ya."

Obrolan berlanjut dengan kehidupannya. Sejak ikut bosnya yang seorang pengusaha besar, hidupnya makin sukses. Sebenarnya aku juga heran, apa posisi Riki dalam perusahaan, karena sepertinya kerjanya hanya menemani bosnya sambil mencari orang untuk beberapa posisi, khususnya mandor.

Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima, kami berpisah. Sebelum berpisah, Riki berkelakar.

"Abang bener ya, kelahiran Sabtu Wage?"

"Iya, kok tahu? Emang kenapa?"

"Gapapa bang, katanya orang Sabtu Wage energinya besar."

Kamipun berpisah. Dia pergi dengan mobilnya, aku pulang naik ojek. Pikiranku melayang ke awang-awang. Membayangkan bagaimana harga diriku akan kembali seperti semula, dan keluargaku tidak akan kesusahan lagi. (bersambung - part 2)

Posting Komentar untuk "Tumbal - Part 1"