Tumbal - Part 2

Ada perbedaan mendasar antara bujang dan seorang lelaki yang sudah berkeluarga. Ketika masih bujang, rasanya hidup benar-benar bebas. Mau ke kiri atau ke kanan, tidak ada yang perlu dipikirkan, cukup ikuti kata hati. Namun saat sudah berkeluarga, rasanya semua sungguh berubah. Ada saja hal yang harus ditunda atau tidak jadi dilakukan karena atas nama keluarga.

cerpen Tumbal part 2
cerpen Tumbal part 2

Emma, istri yang sudah menemaniku selama 12 tahun, menolak mentah-mentah rencanaku untuk ikut kerja bersama Riki. Karena itu berarti kami harus berpisah. Dia tetap di Jakarta, aku harus ke Berau, sebuah kota di Kalimantan. 

Bagi Emma, uang bisa dicari, meski dia juga sadar itu susah. Tetapi keutuhan keluarga haruslah dijaga. 

Cukup lama aku mengusahakan agar dia memberi izin, dan akhirnya aku berhasil. Dia mengizinkan aku pergi merantau, demi menajaga marwah sebagai kepala keluarga yang pantas untuk dibanggakan. 

"Ini apa, sayang?"

"Ini kalung pemberian ibu. Sudah jangan dianggap jimat. Ini sudah turun temurun dipakai keluarga ibu berdoa. Aku berikan kepada Mas, supaya mas juga tetap ingat berdoa."

Sebuah kalung perak dengan bandul salib dimasukkan ke salah satu saku tas ranselku. Sungguh sangat sayang istriku padaku. 

"Kalau begitu mas pakai saja, jangan simpan di situ."

"Nah, itu lebih baik."

Setelah selesai berkemas, kami semua masuk mobil. Aku sengaja meninggalkan mobilku untuk Emma. Selama ini ia menggunakannya untuk berjualan. Puji Tuhan bisa menyambung hidup. 

"Jangan lupa doa malam, doa puasa dan doa pagi. Mohon perlindungan Tuhan. Jangan aneh-aneh, jangan buat masalah."

"Iya, sayang. Pasti. Tenang saja."

Emma memang orang yang sangat religius. Ia membuatku percaya kembali ke pada Tuhan. Bahkan meski aku seorang sekuler, aku punya kebiasaan yang aku lakukan sejak menikah dengannya, yakni doa malam. Doa ini aku lakukan begitu matahari terbenam. Keluarga Emma percaya, saat malam tiba, roh jahat dan kuasa dunia mulai bergentayangan, untuk itulah penting memohon perlindungan di saat kegelapan datang. Juga doa puasa, dimana saat-saat tertentu kami berpuasa, bukan saat Paskah, tetapi justru ketika ingin meminta sesuatu. Dan saat mata terbuka sehabis tidur, aku pasti langsung melakukan doa pagi.

Emma dan keluarganya tipe Kristen Jawa yang taat dan saleh. Mereka percaya pada agama sekaligus budaya. Mereka merayakan tedak sinten, membuat bubur saat-saat tertentu dan juga sering berkunjung ke pemakaman keluarga, baik dekat maupun jauh.

Aku sendiri tidak masalah. Bagiku, itu bagus selama bisa membuatku menjadi insan yang positif. Hanya saja cobaan memang datang silih berganti. Setelah mertuaku meninggal, aku kena PHK dan anak kami, Raya, sempat sakit cukup lama. 

Kini setelah masa berduka lewat, aku dapat kerjaan. Raya juga sudah sehat seperti sedia kala. Aku makin yakin, ini saatnya membalikkan ekonomi keluargaku. 

---**---

Hari  masih pagi ketika aku sampai di Berau. Aku dijemput Riki dan beberapa anak buahnya. Setelah makan soto di sebuah depot makan, kami langsung pergi ke mess. Di tempat inilah nantinya aku akan tinggal.

"Oh, Abang orang Kristen?", ujar Riki kaget ketika melihat kalung salib yang aku pakai.

"Iya, masak kamu baru tahu?", kini giliran aku yang kaget. 

"Oh, iya, tidak masalah bang. Cuma nanti kalau sudah ke area, tolong kalungnya dilepas atau disimpan dulu ya. Tidak enak, soalnya tidak ada yang pakai simbol agama."

Bagiku ini cukup aneh, tetapi apa boleh buat. Aku mengiyakan. 

Cukup lama kami menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga. Aku tidak yakin ini masih masuk Berau. Pokoknya ini berada di tengah hutan. Dan anehnya, proyek yang dimaksud adalah membangun sebuah rumah, lebih mirip kastil, di tengah hutan. Orang gila mana yang mau tinggal di sini.

"Ini hotel ya?"

"Bukan bang. Jadi rencananya ini akan dibangun rumah hunian. Sebuah rumah yang memang besar, seperti istana. Akan ada beberapa kolam renang, bungalow, lapangan tenis hingga semacam aula pertemuan."

"Pasti bosmu orang kaya, ya?"

"Begitulah, Bang."

Setelah itu, aku masuk mess dan berkenalan dengan anak buahku. Total ada 9 orang termasuk aku. Kecil juga tim ini. 

Sebelum pergi meninggalkan kami, Riki mengatakan bahwa uang pengganti ongkos transportasi dan ongkos tinggal sudah ia transfer. Aku mengucapkan terima kasih. 

Setelah ia pergi, aku cek nota bukti transfer yang dia serahkan. Wow, ini besar sekali. Jangan-jangan ia salah transfer, pikirku. Setelah memastikan padanya nominalnya tepat, aku jadi tidak sungkan lagi. 

Badanku capek sekali. Aku segera masuk kamar dan berencana mandi. Kalung milik Emma aku gantung di sebuah paku. Namun sebelum mandi, aku memindahkan pakaianku di semacam almari yang ada di sana, sebuah benda besar yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi. 

Selesai mandi, badan segar. Aku ingin mengobrol bersama calon anak buahku, tetapi rasa kantuk tiba-tiba datang. Aku selonjoran di dipan, tetapi dalam hitungan detik aku tertidur. Aku lupa berdoa. (bersambung - part 3)

Posting Komentar untuk "Tumbal - Part 2"