Tumbal - Part 3

Aku melihat Pak Budi dan Pak Jaka mengaduk semen. Mereka mengobrol sambil terus merokok. Adukan semennya kacau, dengan komposisi yang tidak tepat. Banyak semen berceceran dimana-mana. Aku marah, kudatangi mereka.

"Masih mau kerja?"

"Maksud Bapak apa?"

"Kalau kerja yang bener, Pak Budi. Masak mengaduk semen seperti ini."

"Terus Pak Ruslan mau apa?"

Sambil membentakku ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari celana jeans-nya. Aku tidak takut. Sebuah tusukan ia lakukan, tetapi dengan mudah aku menangkap pergelangan tangannya, menjatuhkan pisaunya lalu membantingnya. 

Tetapi kemudian Pak Jaka menerjangku. Ia mengaum. Matanya merah dan giginya tajam seperti drakula. Ia berusaha menggigitku. Aku menjerit dan untungnya berhasil menendangnya. Ia terpental. 

"Siapa kamu, sebenarnya?"

cerpen Tumbal part 3
cerpen Tumbal part 3

Ternyata bukan hanya Pak Jaka, Pak Budi juga berubah sepertinya. Wajahnya memucat dan matanya merah, dengan deretan gigi tajam yang mengerikan.

Lalu dari belakang, ada sosok yang menangkapku. Aku menjerit, berupaya untuk melepaskan diri. Keringat bercucuran di tubuhku dan nafasku tersenggal-sengal. Aku mendengar sayup-sayup suara memanggilku.

"Pak Ruslan, bangun pak. Pak Ruslan, ayo bangun."

Ternyata aku hanya bermimpi. Matahari sudah tinggi. Untung ini hari Minggu. Aku merasa demam dan meriang

---***---

Sudah seminggu kami bekerja di sini. Ternyata selain Pak Burhan, semua adalah pekerja baru. Pak Burhan cerita, bahwa sebelumnya ada 20 pekerja, termasuk seorang mandor dan dua orang tukang kebun. Tetapi mereka semua entah kemana. Kata Pak Riki, mereka semua pulang kampung, melarikan diri karena tidak betah, atau pindah kerja. 

"Tetapi aneh loh, Pak. Gaji kerja di sini khan gedhe. Kerjanya juga ringan. Kenapa mereka pergi?", Pak Jaka membuka topik pembicaraan.

"Lha, ya harusnya tanya Pak Burhan. Dia pasti yang tahu, kan kita orang baru.", tukasku padanya.

Malam menjelang datang. Jam 9, kami semua masuk kamar masing-masing. Aku sebagai mandor, kamarku paling mewah, sedang mereka tidur di bedeng dan tenda. 

Jujur, tiap malam datang, aku selalu ketakutan. Aku sering bermimpi buruk. Entah tentang makhluk hitam yang menyamar menjadi salah satu dari kami, atau tentang babi hutan berkepala manusia yang berusaha memakan kami semua.

Jam hampir menunjukkan pukul 11, aku minum obat tidur lagi, lalu tak lama langsung molor. Tetapi tidak lama, aku terbangun. Pak Hamongan menggoyang-goyangkan tubuhku.

"Pak, gawat. Bangun pak, bangun!"

"Ada apa, Pak Hamo?"

"Pak Budi kesurupan!"

(Bersambung - part 4)

Posting Komentar untuk "Tumbal - Part 3"