Tumbal - Part 4

Benar, Pak Budi kesurupan. Pria pendek nan kurus itu mengigau, meracau tidak jelas. Ia bahkan cenderung makin agresif ketika aku datang. 

"Ini ga ada yang bisa baca doa-doa?"

"Baca doa gimana pak, sholat saja tidak pernah!", sahut Pak Burhan. Tetapi kata Pak Burhan, dulu teman-temannya juga sering kesurupan. Bahkan ada yang sampai masuk sumur. Untung kemarau.

"Yang ini kayaknya juga bakalan masuk sumur, Pak Burhan!", Pak Jaka menimpali.

"Pak Hamo, Pak Linda, Pak Bungkus, tolong dikejar itu Pak Budi." Aku memberi perintah, begitu Pak Budi keluar mess dengan cara menerjang kaca jendela. Benar saja, ternyata Pak Budi langsung loncat masuk sumur. 

Selang beberapa menit, nampaknya ia sadar. "Itu Pak Budi sudah sadar. Apa yang harus kita lakukan, Pak Ruslan?" Pak Burhan bertanya padaku.

"Masih nanya? Jelas ditolong. Pak Linda, cari tambang." Kuperintahkan Pak Linda, seorang paling muda diantara kami untuk mencari tambang.

Tambang sudah ada, aku minta ujung yang satu diikatkan ke pohon trembesi yang besar dekat sumur, sambil dipegangi, sementara aku langsung mengikatkan tambang di tubuhku dan masuk ke sumur. 

Tidak sulit meraih Pak Budi karena ia sudah sadar. Hanya saja, sumur ini tidak seperti dugaanku. Ini jenis sumur bor yang sangat dalam. Bahkan rasanya ini sumur terdalam yang pernah kutemui. 

"Jangan panik pak, ayo saya ikat Bapak pakai tambang ini, lalu silahkan peluk saya."

Setelah semua perintahku dilakukan Pak Budi, aku memberi sinyal untuk yang di atas menarik kami. Awalnya semua berjalan lancar, namun tambah lama, aku merasa bebanku tambah berat. Padahal Pak Budi ini orangnya ceking. Aku sempat menoleh, ternyata ada sosok lelaki dengan muka penuh lumpur dan mata berdarah bergelayutan di tubuh Pak Budi. Rambutnya acak-acakan dan nampaknya ia menyeringai padaku. 

Jelas aku menjerit ketakutan. Aku minta mereka untuk menarik lebih cepat. Tetapi pergerakan kami makin lambat. Sosok itu lalu bergerak seperti ular. Ia julurkan lidahnya yang ternyata bercabang dua. Ia melata sedemikian rupa, hingga melewati tubuh Pak Budi lalu sampai padaku. Mukanya didekatkan ke mukaku. Aku menjerit sekuat tenaga. Ia justru tersenyum sambil menunjukkan lidahnya yang bercabang. 

---**---

Entah berapa lama aku pingsan, tetapi ketika bangun, sudah ada Pak Bungkus dan Pak Linda. Kata mereka aku dan Pak Budi sama-sama pingsan. Mereka juga tidak menyangka tubuh kami begitu berat. 

Aku anggap semua yang aku alami di dalam sumur tadi hanyalah hayalan belaka. Halusinasi karena sumur itu dipenuhi gas yang mungkin beracun. Aku minta dibuatkan teh panas. Pak Linda segera keluar, menuju dapur. Sejurus kemudian, dua cangkir teh panas, sepiring ote-ote dan tahu kopong sudah tersaji. Kami makan tanpa suara. 

"Saya mau ke kamar mandi dulu"

"Perlu saya temani, Pak Ruslan?"

"Tidak perlu!"

Aku membasuh mukaku dengan air dari wastafel. Nampak jauh lebih baik. Air di sini sangat menyegarkan. Namun ketika aku membasuh untuk kedua kalinya, air berubah jadi hitam, dan di cermin, mukaku dipenuhi lumpur. Aku berbalik. Sesosok lelaki tanpa kaki muncul tepat di pojokan. Ia merangkak menggunakan tanggannya menuju ke arahku. Untuk kesekian kalinya aku pingsan.

cerpen tumbal part 4
cerpen tumbal part 4

Hari-hari berlalu dengan teror yang makin menjadi-jadi. Hampir semua orang pernah didatangi para setan. Pak Bungkus dan Pak Jarot yang sedang menyusun bata, mendengar aku memanggil mereka dari arah kebon belakang, tempat yang memang terlihat angker sehingga nyaris tidak pernah kami rambah.

Sampai sana, ia melihat hantu kepala botak yang tergantung mengerikan di pohon mangga, sambil menyeringai. Paling mengerikan Pak Bambang Aris, Pak Juanda dan Pakde Yoyok. Mereka melihat dua hantu tanpa kepala berdiri di hadapan mereka saat ketiganya sedang mengecat kusen. 

"Mungkin benar, orang-orang sebelum kita memang melarikan diri. Tempat ini sangat menyeramkan." Pak Bungkus memulai pembicaraan.

"Betul sekali. Pak Ruslan, ayo Pak, hubungi Pak Riki. Kita berhenti saja. Sebelum jadi pakan hantu!" Pak Linda menimpali.

"Berhenti gundulmu! Kita ini sudah dibayar di muka. Lagian, di sini tidak ada sinyal, tetangga juga jauh. Tetapi tenang, sesuai jadwal, dua hari lagi Pak Riki datang."

Begitu aku selesai berbicara, lampu berkedip, lalu menyala terang sekali, kemudian mati. Kami langsung meringkuk, menutupi muka dengan selimut, bantal, guling atau apapun yang ada yang bisa kami manfaatkan. 

Dua hari kemudian Pak Riki datang. Seperti sudah mengetahui apa yang terjadi, dia datang bersama dua orang dukun. Mbah Jembi dan Mbah Kontlo. Keduanya adalah dukun papan atas yang sering berseliweran di Tiktok maupun Youtube karena sering dimintai tolong para pejabat maupun artis.

Aku ceritakan semuanya pada Riki. Ia hanya mengangguk-angguk. Sementara Pak Linda dan Pak Bungkus mengancam akan segera pulang jika tidak ada tindakan.

"Tenang. Ini Mbah Jembi dan Mbah Kontlo. Mereka berdua dukun sakti dari kampungnya masing-masing."

"Bapak-bapak tidak usah takut. Silahkan minum jamu ini satu gelas sebelum tidur. Caranya, seduh ramuan ini lalu minum selagi hangat. Lalu tempelkan kertas ini di setiap pintu dan jendela.", Mbah Jembi lalu membagi-bagikan amplop berisi sebuah kartu yang kami tidak tahu bentuknya karena dibungkus kertas coklat. 

"Satu lagi bapak-bapak, jangan sekali-kali ke sumur itu. Jauhi saja.  Itu markas jerangkong dan vampir Belanda. Juga kebon belakang, itu markas besar setan-setan alas dan jurig jarian", Mbah Kontlo menimpali. 

Aku hampir ketawa. Jelas yang kulihat hantu pribumi, tidak ada potongan bule Belanda sama sekali. Tetapi aku tetap patuh. Menurut perhitunganku, dua bulan lagi rumah ini selesai. 

Riki tidak lama mampir. Ia juga tidak lupa memberikan kami masing-masing amplop. Isi amplopku tentu saja uang. Dan aku yakin isi amplop mereka sama. 

Sore hari aku sedang termenung mengawasi sumur laknat yang membuatku mengalami pengalaman horor pertamaku, bertemu setan lumpur dengan lidah bercabang. Lalu aku lihat Pak Linda keluar naik motor.

"Pak Ruslan, saya ijin. Saya disuruh Pak Riki ambil nota di Toko Koh Alung?"

"Loh, sebentar lagi gelap loh Pak!"

"Iya pak, untuk itu saya akan ngebut."

Heran, kenapa Pak Linda pergi malam-malam. Riki kenapa juga tidak memberitahuku. Mungkin karena baru gajian, dia ngebet mau karaoke. Dasar Linda, darah muda yang sedang bahagia. Tetapi aku tak tahu ternyata itulah momen terakhir aku bertemu Pak Linda. Beberapa waktu kemudian, jenasahnya ditemukan ditanam di kebon belakang. (Bersambung - part 5)

Posting Komentar untuk "Tumbal - Part 4"