Belajar Fotografi, Belajar Mengabadikan Karya Ilahi

Salah satu obsesi saya yang tidak pernah benar-benar kesampaian adalah belajar fotografi. Sejak kecil, semasa kamera film masih berjaya saya sangat terobsesi memiliki skill memotret. Tetapi apa daya, kemiskinan yang begitu kuat membelenggu perikehidupan keluarga saya, membuat saya melupakan impian itu. 

Wajah Ibu di balik dedaunan
Wajah Ibu di balik dedaunan

Pada saat SMP, ada satu ekstra yang ditawarkan. Ekstrakurikuler fotografi. Meski banyak ekstra lainnya yang terkesan mewah dan trendi, termasuk fotografi tersebut, akhirnya saya memilih bergabung dengan Pramuka. Setidaknya ini yang paling cocok untuk siswa miskin seperti saya. Meski saya yakin ekstra fotografi itu tidak jalan juga pada akhirnya. 

Saat SMP, ponsel dengan fitur foto marak beredar. Salah satunya yang paling awal ada keluaran pabrikan Inggris-Jepang, Sonny Ericsson. Teman saya punya, generasi paling awal. Mungkin SE seri T68i, yang kamera dan ponselnya terpisah.

Saya sering pinjam. Untuk mencoba memotret dan main game golf. Setelah dewasa, saya baru sadar tindakan saya itu menyebalkan. Semoga teman saya tidak sebal. 

Kembali ke masalah potret-memotret. Saya belum bisa punya ponsel sedemikian. Ponsel kami sekeluarga (benar, dipakai bersama sekeluarga) adalah Siemens S2588. Meski dianggap kuno dan sangat jelek, ternyata baru sekarang saya akui kehebatan teknologi Jerman. Ponsel ini meski berbulan-bulan tidak diisi ulang dayanya, tetap bisa hidup, meski dengan mode darurat. Saat terjatuh juga tidak rusak sama sekali. Tombolnya juga enak dan tidak pernah bermasalah. Cuma tampilannya sangat kuno. 

Siemens seri S2588
Siemens seri S2588

Di atas adalah gambar dari ponsel pertama kami, Siemens S2588 yang bisa saya temukan di internet. Tidak ada fitur memotret dan tentu saja sangat sederhana. Hanya berfokus pada SMS dan menelepon. 

Pada saat saya kuliah, saya mulai bisa cari uang sendiri. Pendapatan saya dari mengajar di sekolah, menjadi guru les, menjadi penulis lepas, ikut proyekan sana-sini dan lainnya cukup besar. Saat itu saya masih sangat muda, ceroboh, tidak paham literasi keuangan plus sedang ada cukup uang untuk dihamburkan. Pasti Anda tahu apa yang saya lakukan kemudian di saat itu. Selain bisa berfoya-foya tidak jelas, untungnya saya masih cukup waras untuk membeli sesuatu yang berguna. Saya berhasil membeli sebuah kamera saku merk Kodak yang pada saat itu juga tidak bisa dibilang murah. Bentuknya seperti gambar di bawah ini.

Kodak Easyshare C195
piranti pertama saya yang bisa memotret, Kodak Easyshare C195

Dengan kamera itu, saya cukup terbantu, baik untuk mendokumentasikan foto-foto saya baik saat bekerja (saat itu saya bekerja sebagai guru SD juga, sekaligus fasilitator untuk sebuah LSM), kegiatan mahasiswa, travelling maupun momen-momen penting lainnya.

Kehebatan kamera ini selain kecil, juga kualitasnya cukup baik. Pernah rusak dua kali dan saya perbaki di sebuah bengkel kamera dengan harga yang tidak murah, kamera ini resmi pensiun beberapa tahun kemudian.

Saya juga sempat punya kamera Fujifilm S2980. Ini adalah sebuah kamera digital prosumer, artinya meski sudah digital, tetapi bukan DSLR. Tidak bisa ditambah ekstra lensa maupun filter. Ada banyak sekali momen yang saya abadikan memakai kamera ini, meski juga banyak yang hilang. 

Berikut adalah beberapa momen yang saya abadikan menggunakan kamera saku Kodak Easyshare C195 maupun Fujifilm Prosumer S2980.









Saya sempat bekerja sebagai seorang penulis lepas untuk sebuah media daring. Kedua kamera itu sangat membantu saya dalam menunjang pekerjaan saya. Meski jelas, bisa dilihat dari foto-foto di atas, hasilnya masih jauh dari kata artistik.

Saat saya pindah kembali ke Surabaya, saya membeli sebuah ponsel keluaran Sony seri Experia. Harganya sangat mahal saat itu, setara dengan dua kali gaji bulanan saya. Tetapi memang hasil fotonya cukup memuaskan. Kualitasnya sangat baik, meski tidak banyak gimmick filter dan megapixel yang gedhe. Sayang rasanya saya dibohongi oleh penjualnya. Sony saya versi Docomo. Jadi hanya bertahan mungkin dua tahun saja lalu mati total. Berikut beberapa foto yang saya ambil menggunakan ponsel tersebut. 





Sampai sekarang, tahun 2026, saya masih sesekali memotret. Tetapi sekarang menggunakan Realme 12 plus 5G. Hasilnya jauh lebih baik daripada beberapa ponsel keluaran Samsung yang sempat saya beli. Kekuatan ada di filter dan AI, meski saya fokus belajar potret manual. 

Saya sendiri masih tidak begitu paham segitiga fotografi, yakni ISO - Shutter speed - Aperture. Saya ingin belajar dari seorang mentor tetapi jelas menemuka mentor yang handal, mau berbagi dan bisa mengajari dengan baik kepada orang dengan pemahaman secetek saya juga tidak mudah. Termasuk juga tidak murah. Untuk itu saya bertekad belajar sendiri, khususnya dari Youtube, Tiktok dan sumber-sumber lain di internet. 

Pada hari kedua di tahun 2026, saya coba praktek. Di pagi hari, sekitar pukul 05.00 - 06.00 WIB bertempat di kebun belakang, saya coba ambil beberapa foto dengan objek utama adalah ibu saya. 

Gambar pertama di artikel ini adalah hasil foto saya menggunakan Realme 12+ 5G dengan skill ala kadarnya. Meski jauh dari sempurna, saya cukup puas. Memanfaatkan ibu saya yang berkegiatan pagi di kebun, saya coba tangkap suasananya dengan teknik dan sudut yang saya anggap baik. Berikut beberapa foto lainnya dari kegiatan ibu saya di kebun pagi tadi.




Saya sungguh dimudahkan dengan adanya internet dan teknologi ponsel berkamera. Dari internet saya belajar banyak hal, dengan ponsel kegiatan memotret jauh lebih mudah, bahkan murah. 

Di tahun 2026 ini, saya ingin mengasah kemampuan fotografi saya. Siapa tahu bisa dikonversi menjadi pendapatan. Tentu saya sangat bersyukur jika itu bisa terjadi. Tetapi setidaknya, saya bisa berkata kepada anak kecil yang bersemayam di dalam sanubari saya, anak kecil yang hanya bisa mengagumi teman-temannya yang memegang tustel, bahwa kini saya bisa memotret. Mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Mengabadikan karya Ilahi, baik itu alam maupun manusia dengan berbagai tingkah polahnya. 

Tulisan ini adalah tulisan #1 dari seri Tantangan 100 Hari Menulis Blog yang saya buat untuk mengembangkan skill menulis saya. Baca tulisan saya lainnya di blog ini atau kunjungi profil saya untuk mengenal lebih jauh tentang saya. Aura Kasih beli terasi, siapa tahu kita bisa kolaborasi. Sekian, terima kasih sudah membaca. Tuhan menyertai kita semua. 

9 komentar untuk "Belajar Fotografi, Belajar Mengabadikan Karya Ilahi "

Comment Author Avatar
Saya termasuk yang berprinsip 'the man behind the gun'. Kamera secanggih apapun, faktor penentu tetap di pengunanya. Biasanya mereka yang karyanya bagus, punya rasa di setiap karyanya. Semoga terus terasah skill fotografinya dan menjadi penghasilan, ya
Comment Author Avatar
Seru pengalamannya. Kalau ngomongin generasi saat SIEMENS S2588 berarti Mas Adi juga mengalami foto cetak di FUJI FILM ya? Siemens tipe ini tuh - saat itu - memang laris digunakan orang. Mendampingi beberapa seri NOKIA yang juga laris dan digunakan oleh sejuta umat. Sayangnya memang belom ada fungsi kamera HP di zaman itu ya Mas. Cuma cukup untuk SMS (di layar kecil) dan menelepon aja.

Sekarang? Wah semua gawai berlomba-lomba menghadirkan kamera terbaik di gawai. Publik tuh mengincar kualitas kamera gawai ketimbang fungsi nya hahahaha. Jadi kalau mau lanjut belajar motret, tinggal modal gawai yang jempolan resolusi fotonya ya Mas. Plus tentu saja diimbangi dengan skill dan "rasa" memotret yang mumpuni.
Comment Author Avatar
Asik memang jelajah berbagai hal dan mengabadikannya lewat gambar, apalagi dari masa ke masa perangkat yg digunakan makin beragam
Comment Author Avatar
ponsel pertama saya Sony Ericsson, mungkin seperti yang dimaksud Mas Adi di atas
Saya juga suka banget memotret dan kebetulan dulu Kompasiana ada komunitasnya
Jadi lumayan, bisa belajar sebagai pemula
Comment Author Avatar
bersyukur sudah ada teknologi ponsel sekarang yang kameranya juga sudah bagus2. jadi kita bisa belajar fotografi secara otodidak
Comment Author Avatar
Asyik banget ya ada ekskul fotografi. Aku dari SD juga tertarik tapi ga bisa ikut ekskul karena ga punya kamera. Sedih...
Comment Author Avatar
Jaman dulu saya juga merasa bangga memiliki kamera untuk ambil foto. Lalu dicetak dan dikasih ke orang yang ada dalam fotonya itu
Sekarang semua ponsel canggih dibekali kamera ya. Belajar foto sudah lebih mudah lagi sebenarnya saat ini tuh
Comment Author Avatar
Sukses untuk tantangan menulisnya, ka..
Dan bakat siih ya.. trus diasah menggunakan gear yang tepat.
Katanya.. foto itu adalah seni.

Jadi gakkan sama tuh.. hasil foto meski menggunakan gear dan angle yang sama.
Hanya orang-orang yang "nyeni" yang bisa menghasilkan sebuah masterpiece foto yang seolah "berkomunikasi" dengan yang menikmatinya.
Comment Author Avatar
Belajar fotografi bukan sekadar menguasai teknik kamera, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk lebih peka dalam menangkap keindahan detail ciptaan Tuhan yang sering terlewatkan. Dengan membingkai momen melalui lensa, kita diajak untuk lebih bersyukur dan menghargai setiap karya Ilahi yang terbentang di alam semesta.